Main Area

Main

Apakah Dosa Berpengaruh Pada Khusyuknya Shalat

Ketika muncul pertanyaan apakah dosa – dosa yang telah tercatat menjadi sebuah pengaruh bagi khusyuknya kita dalam melakukan sholat?  Sebelumnya ada lima level sholat menurut Ibnu Qayyim Al Jawziyah, yang membedakan pahala yang akan di dapat dalam melakukan sholat. Diantaranya adalah “
  1. Mu’aqqab (disiksa atau berdosa pada sholatnya), dimana dalam melakukan sholat ia abaikan aturan – aturan dalam sholat dimulai dari waktu sholat, wudhu, hingga pada rukun – rukun shalat. Seseorang yang berada pada tahap ini biasanya melakukan shoalat hanya untuk dipuji.
  2. Muhasab (dihisab, diperhitungkan oleh Allah) seseorang yang mampu menjaga waktu sholatnya, wudhunya, bahkan pada syarat dan rukun sholatnya. Hanya terbatas pada aspek zhahiriyahnya saja namun belum pada ruhiyahnya (khusyuk), masih lebih tinggi tingkat melamunnya dari pada khusuknya dia dalam melakukan sholat.
  3. Mukaffar’Anhu diampuni (dihapus dosa dan kesalahan), seseorang yang mampu menjaga sholat dan segala ruang lingkupnya, bersungguh – sungguh dalam melawan intervensi setan, serta berusaha melawan lamunan dan pikiran yang terlintas.
  4. Mutsabun (yang diberi pahala), memiliki ciri seperti Mukaffar’Anhu namun kelebihannya adalah ia benar – benar istiqomah (mendirikan sholat). Hanyut tenggelam dalam sholat dan penghambaan kepada Allah.
  5. Muqarrab Min Rabbihi (yang ketika sholat langsung tertuju hanya pada Allah), ini adalah tingkatan yang paling hebat dalam melakukan sholat dengan sangat fokusnya, maka Allah berikan ampunan dan pahala untuknya, karena telah menjadikan sholat sebagai penyejuk mata dan penentram jiwa.
Namun, apakah dosa itu menjadi salah satu faktor sehingga kita kurang khusyuk atau bahkan sangatlah sulit untuk khusyuk dalam sholat ataupun ibadah lainnya seperti mengaji, berpuasa, berbuat kebaikan. Jawabannya adalah “Ya”, dosa berpengaruh terhadap kekhusyukan kita dalam beribadah terutama yang paling utama adalah sholat yang hukumnya wajib dilaksanakan bagi mereka yang telah melewati masa ballighnya. Maka sungguh setan itu tidak akan pernah diam, dalam menjerumuskan kita sehingga untuk khusyuk dalam sholat saja kita rasa sangatlah berat.
Kelima level sholat itu bisa saja seseorang yang sangat menjaga sikap, perbuatan, lisannya dengan sangat berhati - hati, sangat dijaga dan berusaha untuk terus menjadikan apapun yang ia lakukan gerakan, pandangan, ucapan dan seluruh aktivitasnya itu hanya untuk Allah, sangat mengharap ridho Allah dan betul – betul takut pada dosa, hingga hal apapun yang mendekatkan dia pada perbuatan dosa ia jauhi. Bisa saja dia terletak pada level kelima dalam shalatnya, karna ketika bacaan sholat itu terucap dari bibirnya, pikiran, raga, persaan dan apapun yang ada pada dirinya akan secara otomatis tertuju langsung hanya pada Allah, ia melupakan apapun yang ada disekitarnya hanya Allah dan Allah yang ia ingat, ia hanyut dalam bacaan doa shalat yang ia bisikkan.
Sebagaimana sebuah kisah sahabat Rasulullah Dikisahkan Rasulullah SAW, menyuruh Abu Sa’id untuk menjaga pasukan di malam hari ketika Rasulullah SAW dan sahabat lain sedang tidur untuk beristirahat. Abu Sa’id pun melaksanakan sholat di sekitar semak belukar. Tiba-tiba ada mata-mata musuh dari jauh memanah Abu Sa’id yang sedang sholat. Namun beliau tetap fokus dengan sholatnya. Panah tersebut mengarah ke dada Abu Sa’id berkali-kali. Yang kesemua anak panahnya mengarah ke jantung. Abu Sa’id berkata saat itu beliau tidak merasakan sakitnya anak panah karena begitu menikmati surah Al Kahfi yang sedang dibaca dalam sholatnya.
Hingga akhirnya beliau memutuskan untuk tidak menyelesaikan Al Kahfinya karena kuatir dengan keselamatan Rasulullah SAW dan sahabat lainnya. Kemudian beliau pun rukuk dan menyelesaikan sholatnya. Sementara mata-mata tadi itu pergi karena ragu menganggap Abu Sa’id itu manusia. Namun bukan mengenai peperangan yang ingin kita bahas melainkan bagaimana seorang hamba Allah yang begitu khusyuk dalam sholatnya, hingga rasa sakit yang bertubi – tubi menghantam dadanya ini sama sekali tidak memberikan rasa sakit sedikitpun, ia hanyut dalam surat Al Kahfi yang ia baca, sungguh telah melupakan apa – apa yang ada disekitarnya.
Bukan juga berarti bahwa dalam sholat kita memikirkan kelima level shalat itu, karena tidak fokus pada bacaan saja sudah dianggap tidak khusyuk dalam sholatnya. Lalu Bagaimana mengatasinya ? tidak khusyuk dalam sholat karena dosa yang saya perbuat sudah sangat banyak ? apakah bisa saya sholat dengan khusyuk ?
Level shalat adalah patokan bagi kita agar manjadi muslim yang lebih baik lagi dalam melakukan shalatnya, seorang muslim yang dapat selalu khusyuk dalam sholatnya, ketika melaksanakan sholat tidak perlu membayangkan kelima level ini namun kita sudah harus mencoba, ketika dosa menjadi penghalangnya maka beristigfarlah !  hal yang mengingatkan kita pada kesalahan lampau yang kita perbuat dan kita bertaubat dari perbuatan itu dan istiqomahlah ! beristiqomah dengan perbuatan baik yang kita perbuat sehingga akan terus menjadi kebiasaan bagi keseharian kita,  berusahalah untuk menjadi seorang hamba yang unggul dalam kehidupan dunia ataupun akhiratnya.
Sumber : Ceramah Ust. Khalid Basalamah 
2019 Ummi Foundation. All rights reserved. Designed by CreativeTim.