Main Area

Main

Kebahagiaan yang Tidak Bisa Dibayar dengan Apapun

Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar Erly sudah mencintai Al Qur’an. Diapun rajin berguru tilawatil Qur’an secara privat dan rajin mengikuti perlombaan tilawati Qur’an. Berbagai kejuaraanpun sering dimenangkannya. Jadilah Erly dari masa sekolah sampai sekarang menjadi langganan juara di kejuaraan  tingkat kabupaten dan provinsi.

Dengan bekal kepiawaiannya mengaji inilah Erly akhirnya menjadi guru Al Qur’an di SMP Hasbunallah, yaitu tepatnya tahun 2009. Tahun kemarin Erly menjadi juara 1 MTQ Provinsi Kalimantan Selatan dan berhak atas hadiah umroh.

Sarjana Matematika tahun 2013 ini merasakan telah nyaman menjadi Koordinator Al  Qur’an sebagai profesinya. Erly bukan lagi ingin menjadi guru Matematika seperti pilihan jurusannya.  Ia lebih bangga menjadi guru Al Qur’an dibandingkan sebagai guru Matematika. Sudah tertutup keinginan untuk menjadi guru Matematika.

Banyak dari rekan-rekannya yang mengajak untuk mencoba test menjadi PNS dengan menggunakan ijazah kesarjanaannya. Adapula rekannya yang mengatakan kalau ingin mengikuti jalur sertifikasi harus pakai ijazahnya. Namun Erly tetap tidak mau mengikuti syaran tersebut dan ia tetap memilih menjadi guru Al Qur’an. Keinginannya tersebut didukung pula oleh suami dan orang tuanya. 

“Kalau misalnya saya menjadi guru matematika gajinya memang besar tapi gaji itu penilaian duniawi saja. Namun kalau saya menjadi guru Al Qur’an gaji yang akan saya terima bukan hanya di dunia tapi juga di akherat. Saya sudah merasa bahagia sekali dan tidak bisa  dibayar dengan apapun,” jelasnya.

  Erly teringat selalu pesan dari gurunya yaitu tentang keutamaan mempelajari Al Qur’an. “Semakin kita ingin tahu Al Qur’an maka Al Qur’an akan semakin memasuki kita. Maka dengan  mengajar Al Qur’an itu saya sudah merasa tenang dan senang sekali ,” ucap Erly. [Far]

2019 Ummi Foundation. All rights reserved. Designed by CreativeTim.