Main Area

Main

Mensupport Guru Ummi, Hanya Itu yang Bisa Saya Lakukan

Tidak dapat dipungkiri oleh Karlawati, S.Pd, Kepala Sekolah Dasar Hasbunallah, bertambahnya jumlah murid baru dari tahun ke tahun adalah lewat pemakaian metode Ummi. Karena banyak orang tua murid yang merasa ikut bersekolah kembali bersama anak-anaknya  di SD Hasbunallah. Dalam hal ini para orang tua murid itu malah belajar lagi Al Qur’an dan anaknyalah yang mengajarinya. Itulah makanya kenapa mereka seolah berlomba-lomba untuk menyekolahkan anaknya di Sekolah Dasar Hasbunallah.

Karlawati adalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang diperbantukan untuk memimpin SD Hasbunallah oleh Dinas Pendidikan setempat. Sebelumnya beliau adalah guru yang mengajar di  SDN Tanjung 2 selama 15 tahun. Status PNS yang dipegangnya tidak menutup peluang menjadi Kepala Sekolah di sekolah swasta seperti  SD Hasbunallah. Karena yang memerintahkannya Kepala Dinas Tabalong langsung.

Dengan permintaan dari Ketua Yayasan Hasbunallah kepada Kepala Dinas Tabalong memang beberapa orang PNS diminta untuk mengajar dan menjadi Kepala Sekolah di Yayasan Hasbunallah. Mulai dari TK, SD, SMP dan SMA semua dipimpin oleh seorang Pegawai Negeri Sipil.

“Pemilihan saya sebagai Kepala Sekolah SD Hasbunallah adalah karena rumah tinggal saya yang berada di kompleks yang sama dengan sekolah. Dengan SK Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tabalong  mulai tahun 2006 saya mengepalai sekolah dasarnya  dengan jumlah murid 60 orang di dalam 3 kelas,” kata Karlawati.

Di samping dirinya sebagai Kepala Sekolah SD Hasbunallah, beliau juga berprofesi sebagai trainer dari PT. Adaro PAMA. Inilah juga yang menyebabkannya untuk banyak tugas keluar untuk memberikan pelatihan-pelatihan kepada guru-guru. Mau tidak mau semuanya itu merupakan amanah untuknya dan harus dijalankannya. 

Karla merasakan  memiliki 2 atasan, yang satu adalah Kepala Dinas Kabupaten Tabalong dan  satu lagi adalah Ketua Yayasan Hasbunallah. Keberadaan SD Hasbunallah sebagai sekolah swasta juga tidak pernah dirasakan perbedaan perlakuan dengan SD Negeri. Merasa cukup diperlakukan sama baiknya yang diberikan kepada SD Hasbunallah. 

Sebagai seorang yang memiliki pengalaman sebagai guru negeri, Karla dengan mudah dapat melihat produk keseharian dari anak-anak yang bersekolah negeri atau swasta secara khusus. Beliau mengatakan umumnya mereka yang bersekolah di negeri setiap sore masih harus keluar rumah untuk mengaji di sekitar mereka tinggal. Namun tidak demikian dengan murid-muridnya yang telah mendapatkan pelajaran mengaji di sekolahnya. Malah kepada orang tuanya ia berpesan untuk tidak memberikan waktu kepada anaknya untuk mengaji lagi setiap sore.

Hal ini dikarenakan akan berpengaruh terhadap cara mengajinya anak khususnya di sekolah. Di sekolah mereka telah mendapatkan metode Ummi namun di luar tidak, jadi hal ini pula yang mempengaruhi tingkat pemahaman dan kemajuan mengaji di sekolah. 

“Saya memang menghimbau kepada orang tua murid kami untuk tidak memberikan lagi mengaji di sekitar rumah. Karena banyak keluhan dari orang tua murid yang mengeluh kalau anaknya belum naik-naik jilidnya. Nah, makanya saya katakan karena itu sudah berbeda metode sudah barang tentu mempengaruhi pemahaman anak juga,” jelasnya.

Di samping mengaji ada hal lain yang beliau bisa bedakan dan rasakan sangat positif sekali, yaitu perbedaan banyaknya jam pelajaran. Di sekolah negeri dalam sehari akan lebih singkat mendapatkan jam pelajaran dibandingkan sekolah swasta umumnya.  Rata-rata jam 12.00 siang mereka sudah pulang. Dibandingkan dengan murid SD Hasbunallah yang jam pelajaran sampai jam 16.00 sore.

“Dan yang jelas di sini sejak kecil murid-murid kami sudah mengenal metode Ummi yang sungguh luar biasa. Sebagai bagian dari bentuk dukungan kepada metode Ummi ini saya sangat mensupport segala macam kegiatan Ummi di sekolah,” jelas Karla.

Jam kerja guru-guru Ummi adalah sampai jam 11.00 saja, ini adalah ketentuan dari Yayasan Hasbunallah.  Namun Karla masih membutuhkan mereka untuk ikut mengawasi murid-murid SD Hasbunallah sampai selesai melaksanakan kegiatan sholat Dhuhur. Hal ini sebagai upaya untuk meminimalisir kesenjangan antara guru-guru Mapel dan guru Ummi.

Karla mengakui sejauh ini maju dan berkembangnya SD Hasbunallah adalah karena dukungan total dari  PT. Riung Mitra Lestari dan Ummi Foundation. Kerjasama yang berlangsung di tahap kedua ini telah menghasilkan banyak sekali manfaatnya.

“Orang tua murid kami sebagian ada yang berpendapat kalau mereka menyekolahkan anaknya di SD Hasbunallah dan merekapun ikut bersekolah. Mereka ikut belajar khususnya pelajaran Al Qur’an. Karena orangtua yang tidak bisa megaji lantas belajar mengaji ke anaknya. Itulah yang menjadikan minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya di SD Hasbunallah sangat besar,” jelas Karla.

Ditambahkan pula tidak sedikit anak-anaknya yang mengajarkan orang tuanya do’a sehari-hari dan mengajaknya untuk mengutamakan sholat berjamaah bersama keluarga.

Disamping metode Ummi dari kerjasama dengan PT. Riung dan Ummi Foundation, SD Hasbunallah juga mendapatkan UMI Indonesia. Yaitu memberikan program pelatihan-pelatihan seperti Kurikulum 13, Super Learning, dan Quantum Learning. Yang diakui oleh Karla bahwa pelatihan-pelatihan semacam itu sangat membantu sekali dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.

Dari segi peningkatan jumlah murid dari tahun ke tahun mengalami lonjakan jumlah pendaftar. Para calon pendaftar berlomba-lomba untuk mendapatkan jatah salah satu kursi dari 140 murid baru. Sedangkan salah satu syarat kelulusannya anak harus sudah mengenal huruf-huruf Al Qur’an.

“Perasaan saya sebagai seorang ibu tentu akan sama dengan orang tua murid lainnya. Merekapun ingin putra-putri yang pandai mengaji karena menjadi kebahagiaan tersendiri jika melihat anak-anak kita pandai dalam ilmu agama, “ tutup Karla. [far]

2019 Ummi Foundation. All rights reserved. Designed by CreativeTim.