Main Area

Main

Tertib Management Dari Metode Ummi

Jebolan DGSD (Diklat Guru Sekolah Dasar) KPI Surabaya ini percaya bahwa, Rahman  kita menerima tantangan dan menghadapinya semakin matanglah kita. Itulah motto dari seorang Koordinator Ummi SD Hasbunallah, Muhammad Aulia Rahman, memulai karir sebagai guru SD Hasbunallah sejak tahun 2008. Ia mengaku setelah diangkat jadi Koordinator Ummi itu banyak belajar tentang bagaimana cara mengatur kelas dan mengatur guru. Karena sekarang dirinya percaya dengan system managemen metode Ummi yang lebih menjadikannyapercaya diri dalam mengajar. Hanya diminta untuk tertib management metode Ummi kalau mau sukses mengajar Al Qur’an dengan metode Ummi.

“Dengan sistem management Ummi, salah satunya kita dapat mengukur hasil yang akan dicapai. Kita bisa mengetahui perkembangan murid dari per-hari atau per-bulan. Jika ada kendala kitapun paham apa yang harus kita perbuat,” jelas Aulia.

Lain dulu lain sekarang, cara pembelajaranpun berbeda. Aulia mengakui sebelum mereka mendapatkan kerjasama ini bisa dikatakan cara mengajar guru tidak berstandar. Diceritakan, hanya dengan membawa ballpoint saja guru bisa mengajar. Tetapi sekarang semua harus ada standart kelengkapan mengajar, seperti absensi, jurnal, peraga mengajar dan lain-lain.

Mereka sangat bersyukur dan sangat terbantu atas kerjasama ini. Di tahun pertama kerjasama ini langsung terasa manfaatnya, yaitu bisa mengkhotamkan muridnya yang pertama.  Untuk tahun ini diselenggarakan Khotaman yang ke-4. Ternyata metode yang selama ini dipakai hanya kurang bimbingan dan pengetahuan tentang metode tersebut.

Goodwill Management yang Amat Besar

Hal utama yang amat mempengaruhi sukses tidaknya penggunaan metode Ummi di dalam suatu lembaga. Demikian pula dengan SD Hasbunallah yang selalu mendapatkan dukungan sepenuhnya dari pihak Yayasan Hasbunallah Wa Nikmal Wakil.

Padahal kondisi dukungan sepenuhnya seperti ini sudah terjadi dari ketika SD Hasbunallah memakai metode Ummi sebagai metode pembelajaran Al Qu’annya. Tetapi pada kenyataannya secara hasil belum maksimal. Hal ini  disebabkan kurang adanya pendampingan serta pengawalan program yang maksimal.

Contohnya adalah mlai dari keberadaan Koordinator Ummi yang tadinya hanya dipegang 1 orang di yayasan dengan membawahi 4 lembaga. Namun dengan adanya kerjasama ini harus menunjuk koordinator Ummi di masing-masing lembaga. Maka itusejak 2014 dirinya di angkat menjadi Koordinator Ummi SD Hasbunallah.

“Segala macam bentuk kekurangan apapun dalam bidang pembelajaran Al qur’an metode Ummi, pihak yayasan langsung cepat tanggap dan dipenuhi,” jelas Aulia.

Menurutnya setap hari di sekolah menemui anak muridnya mengaji adalah unik. Bayangkan saja dari awalnya anak di sini mereka belum dapat mengaji sampai sekarang mereka pandai. Hal inilah yang terus menerus menjadi pemacu untuk guru, khususnya guru Ummi untuk terus belajar.

Kendala yang biasa ditemui dalam pengajaran ummi  adalah terlalu seringnya ditinggalkan oleh guru. Guru yang telah mapan secara pengetahuan karena sudah dilatih dan semakin pintar, tetapi sesudah itu mereka keluar dengan alasan memilih mengurus keluarganya.

Banyak guru-guru baru yang masih belum piawai dalam mengajar Ummi. Ternyata dengan melihat saja rekan lain mengajar yang dianggap rumit ternyata itu mudah. “Learning by doing,  seperti itulah yang mereka bisa pintar mengajar, di samping kami selalu mengadakan pembinaan rutin dan mengikut sertakan dalam pelatihan-pelatihan Ummi,” jelasnya.

Dengan jumlah murid sebanyak 508 murid, harus tersedia paling tidak 15 guru Ummi. Itu jumlah ideal rasio guru dan murid.  Walaupun hanyaguru Ummi, tapi yang mengetest mereka adalah pihak yayasan. Setelah itu pihak yayasan akan menentukan posisinya ada di jilid berapa untuk mengajar Ummi.

“Hampir belum ada satupun guru pelamar baru untuk menjadi guru Ummi ituyang telah bersertifikasi Ummi. Justru di sinilah kemudian merekabersertifikat Ummi. Tapi biasanya berakhir dengan dilemma, mereka mengundurkan diri,” jelas pria berusia 30 tahun ini.


Kelas Bengkel
                                                                                                    Pembelajaran Metode Ummi SD Hasbunallah Tabalong Kalimantan Selatan

SD Hasbunallah memiliki sebutan khusus untuk kelas Ummi yang memerlukan perlakuan khusus. Kelas yang berisi anak-anak yang “istimewa” dari anak umumnya. Yang masuk ke dalam kelas bengkel ini adalah anak-anak yang mempunyai kriteria lebih dari biasanya. Lebih pendiam, lebih ramai, lebih pasif dan lebih aktif.

Di Kelas Bengkel inilah dipersiapkan secara khusus guru yang mengajarkan Ummi. Guru yang paling senior yang biasanya memegang kelas ini. Tak jarang Aulia sebagai coordinator Ummi juga mengajar di kelas ini. Disinilah dibutuhkan trik khusus untuk menghadapi kelas Bengkel ini.

“Butuh kesabaran ekstra dan trik khusus untuk mendisiplinkan mereka. Seperti kelompok inipun tidak lepas dari membuat peraturan bersama,  siapa yang melanggar bersiap untuk mendapatkan konsekuensinya,” tegasnya.

Pembinaan kepada guru-guru pengajar Ummi dilakukan setiap hari Kamis pada jam 11.45. Biasanya diisi dengan bertukar pikiran cara atau kendala yang ditemui dan bagaimana solusinya. Biasanya setelah pelatihan guru-guru akan terrecharge lagi untuk mengajar. Semangatnya terbangun lagi, merekapun mengerti dan paham bagaimana cara mengajar yang baik dan benar.

Peserta Khotaman biasanya adalah mereka yang duduk di kelas 4 atau 5. Begitu lulus mereka akan dimasukkan ke kelas tahfidz. Untuk tahun ini mencapai 103 peserta khotaman dari SD Hasbunallah. [far]

 

2020 Ummi Foundation. All rights reserved. Designed by CreativeTim.